Peraturan sekolah harus masuk akal
Seminar PDP kami selasa kemarin menampilkan seorang guru yang sudah mengajar selama 30 tahun di SMA Suzaku di Kyoto. Namanya Pak Ichikawa. Beliau mengajar Biologi. Kedatangan Pak Ichikawa di forum seminar kami bertujuan untuk menjelaskan tentang survey sekolah yang dilaksakan di SMA Suzaku yaitu tentang peraturan sekolah di SMA Suzaku. Anak-anak Suzaku tak diwajibkan memakai seragam, tapi mereka tidak diperbolehkan mengenakan asesoris tertentu.
Beberapa peraturan yang terdengar lucu adalah : rambut tidak boleh gondrong dan plontos dengan batasan diatas kerah ,telinga dan alis atau gaya rambut yang aneh. Aturan-aturan itu mungkin sedikit aneh bagi beberapa sekolah yang mewajibkan seragam. Tapi bagi SMA Suzaku aturan itu perlu dibuat karena siswa bebas memakai pakaian sopan apa saja ke sekolah.
Ketika pertama kali diterapkan, banyak siswa yang menentang. Tapi Pak Ichikawa punya resep agar anak-anak Suzaku mau mengikuti peraturan sekolah. Intinya beliau mengajak anak-anak yang menentang untuk berdialog, dan menanyai mereka alasan penentangan plus menjelaskan kenapa rambut tak boleh dibuat aneh.
Peraturan di sekolah harus merupakan sesuatu yang masuk akal ! Pak Ichikawa mengatakan anak-anak SMA adalah orang dewasa yang masih mature tapi bisa memahami istilah “jama” (= mengganggu). Maksudnya, peraturan dibuat agar orang lain tak merasa terganggu. Dan anak-anak pun dibiasakan berfikir mengapa mereka tak boleh begini tak boleh begitu, sebab orang lain akan terganggu.
Tentu saja agak sulit menanamkan ini di tengah upaya guru menanamkan pengertian “jiyu” (kebebasan). Sebab selama bertahun-tahun pendidikan Jepang adalah pendidikan yang terkungkung, tanpa mengenal kata demokrasi dan kebebasan. Namun menarik untuk menganalisa, bagaimana ide kebebasan itu diajarkan di Jepang sementara konsep “kekakuan, kesopanan ” ala Jepang masih harus dipertahankan.
Selain menyodorkan peraturan yang sudah jadi kepada siswa, ada baiknya juga menanyai mereka peraturan apa yang mesti diperbaharui, atau dibuat supaya sekolah menjadi aman untuk belajar. Yang ini biasanya tidak dilakukan di sekolah-sekolah, termasuk SMA Suzaku.
Peraturan ini sama dengan disekolah saya SMK PIKA semarang. Memang betul apa yang dikatakan Pak Ichigawa bahwa banyak murid protes dengan peraturan baru atau yang diperbaharui. Namun ada sedikit perbedaan dalam pengertian terhadap murid.
Namun, menurut saya memang peraturan sekolah harus difilterisasi mana yang penting dan mana yang tidak penting agar peraturan tidak membatasi kreatifitas siswa untuk mengekspresikan dirinya terhadap orang – orang disekitar mereka.
Peraturan yang tidak masuk akal / murniramli.wordpress.com
www.indonesiaindonesia.com
iklanmarket.com



